Wednesday, February 8, 2012

W A K T U

Binatang apabila hilang, suatu saat kemungkinan dapat ditemukan kembali atau bisa balik kepada pemiliknya. Jatuh dari jabatan atau kekuasaan suatu saat bisa naik jadi pejabat atau penguasa lagi. Tapi ada satu perkara yang jika perkara ini telah hilang, telah pergi walau sampai belut berbulu atau ular bersayap (kalaupun ada), maka perkara yang satu ini pantang untuk pulang, dan ia takkan mungkin kembali lagi. Kita tak mungkin berjumpa lagi. Apa gerangan perkara tersebut? Jawabnya ialah WAKTU.
Coba kita perhatikan dan renungkan! “Datang hari yang sekarang, hari ini bukan hari kemarin, sebab hari kemarin sudah pergi dan berganti dengan hari ini, dan tidak akan kembali lagi. Hari ini bukan hari esok, sebab hari esok belum datang, kita belum tentu mengalaminya. Jelaslah sudah hari ini adalah hari ini, bukan hari kemarin dan bukan pula hari esok”.
Satu-satunya agama yang sangat menghargai waktu hanyalah ISLAM. Buktinya ALLAH SWT di dalam al-Quran khusus menamai sebuah surat yang di beri nama “al-Ashr atau waktu”. Oleh karena itu kita wajib menghargai, memelihara dan menjaga waktu dengan sebaik-baiknya, seefisien dan seefektif mungkin. Waktu adalah modal utama, karunia dari ALLAH SWT untuk kita hidup di dalam dunia, sebab kebahagiaan dan kesusahan kita di akhirat kelak sepenuhnya akan sangat tergantung pada sikap kita dalam menggunakan waktu saat di dunia sekarang ini. Awas kita jangan lalai dengan waktu, sebab waktu adalah umur, dan umur jangan dipermainkan.
Menyongsong datangnya hari baru atau waktu yang baru, tidak boleh dengan perbuatan yang durhaka, tapi sebaliknya kita harus syukur nikmat atas umur kita. Umur harus diukur dan diukir dengan syukur sesuai dengan kehendak ALLAH SWT sebelum kita terbujur kaku di dalam kubur. Sebelum kita dihisab, hisablah diri kita sendiri. Kita harus muhasabah terhadap amaliyah kita. Jangan-jangan ada amaliyah yang tidak senonoh dengan al-Quran dan as-Sunnah. Kita timbang-timbang amaliyah kita, mana yang lebih banyak, apakah lebih banyak ibadah atau maksiat.
Dalam surat al-Hasr ayat 18, ALLAH mengingatkan kepada kita sebagai orang mukmin untuk selalu bertaqwa, melihat amaliyah ke belakang untuk dievaluasi dan persiapkan amal yang baik (sholih) untuk bekal ke akhirat, dan jangan lupa tingkatkan kembali ketaqwaan kita kepada ALLAH. Sebab ALLAH Maha melihat apa-apa yang kita kerjakan. Akhirat adalah kehidupan yang abadi (kekal) tiada akhir. Oleh karenanya bekalpun harus seimbang dengan masanya.
Hasan al-Bahri mengemukakan, “tidak ada satu hari yang terbit fajar shubuhnya, kecuali akan ada yang menyeru; Hai sekalian manusia, aku adalah makhluk baru, dan aku akan jadi saksi pada amal-amal kalian, maka kalian harus siap perbekalan. Sambutlah kedatanganku dengan amal-amal yang baik (sholih), sesungguhnya aku tidak akan kembali menengok kalian lagi sampai hari kiamat datang.”
Rosulullah SAW memperingatkan para sahabat saat itu dan kepada kita sekarang ini mengenai hasil amal kita dalam rangka menggunakan waktu, “Siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia termasuk orang yang beruntung. Dan siapa yang hari ini keadaannya sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka dia termasuk orang yang dilaknat” (HR. al-Hakim)
Semoga kita mendapat ibroh dari hadits tersebut di atas, agar kita senantiasa berhati-hati mempergunakan waktu. Mari kita isi waktu atau umur kita dengan IMAN TAUHID yang KUAT, ILMU yang PADAT, AMAL yang MASLAHAT, JAUH dari MAKSIAT dan bisa hidup SELAMAT DUNIA dan AKHIRAT. Amien...

No comments:

Post a Comment

Post a Comment