Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Thursday, November 22, 2012

(Renungan) Ayah Kembalikan Tangan Dita

Sepasang suami isteri – seperti pasanganlain di kota-kota besar selalu meninggalkan anak-anak dan diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, adalah perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan saja oleh pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayunan di atas buaian yang dibeli Ayahnya, atau memetik bunga di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku berkarat. Si Anak pun mencoret lantai tempat mobil Ayahnya diparkirkan, namun karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Lalu dicobanya lagi pada mobil baru Ayahnya. Ya.. mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Kebetulan hari itu Ayah dan Ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. DIbuatnya gambar Ibu dan Ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri tersebut melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si Bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini !!!"...
Pembantu rumah yang tersentak mendengar jeritan itu pun segera berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan, lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan "Saya tidak tahu, Tuan". "Kamu di rumah sepanjang hari, apa saja yang kau lakukan?" hardik si isteri lagi.
Si Anak yang mendengar suara Ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Dita yang membuat gambar itu Ayahhh.. cantik.. kan...!", katanya sambil memeluk Ayahnya sambil bermanja seperti biasa.
Si Ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan sang Anak. Si Anak yang tak mengerti apa apa menangis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si Ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan si Ibu hanya berdiam diri, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan pada sang Anak. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa. Si Ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya.
Setelah puas memukul, si Ayah masuk ke rumah diikuti si Ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si Anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si Ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.
Keesokkan harinya, kedua belah tangan si Anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan obat saja!", jawab Bapak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si Ayah konon bermaksud ingin memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si Ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si Ibu pun demikian, meski setiap hari dia bertanya kepada pembantu rumah. "Dita demam, Bu...", jawab pembantunya ringkas. "Kasih panadol saja," balas si Ibu. Sebelum si Ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.
Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita sangat panas. "Yah, sore nanti kita bawa ke klinik," kata majikannya itu.
Sampai saatnya si Anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter merujuk agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari dirawat inap dokter memanggil Bapak dan Ibu anak itu. "Tidak ada pilihan lagi..."kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut… "Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawa anak Bapak dan Ibu, maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Bagaikan terkena halilintar si Bapak dan Ibu mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yang dapat diucapkan lagi.
Si Ibu meraung merangkul si Anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si Ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si Anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka Ayah dan Ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si Anak bersuara dalam linangan air mata.
"Ayah.. Ibu.. Dita tidak akan melakukannya lagi… Dita tak mau Ayah pukul lagi. Dita janji tidak nakal lagi.. Dita sayang Ayah.. Dita sayang Ibu...", katanya berulang kali membuatkan si Ibu gagal menahan rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti..."katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
"Ayaaah.. kembalikan tangan Dita..!! Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi..!! Bagaimana Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain nanti?… Dita janji tidak akan coret-coret mobil lagi, Dita janji...!!!" katanya berulang-ulang.
Hancur hati si Ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur.
Pada akhirnya si Anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf.
Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran batin, sampai suatu saat sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yang tak bertepi...
Namun, si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayangdan selalu merindukan Ayahnya..
Semoga bermanfaat dan dapat diambil Hikmahnya …
Silahkan DICOPAS atau DI-SHARE jika menurut sobat note ini bermanfaat ….
Sekian dan salam berbagi...
Sumber bindusabid

Thursday, November 15, 2012

(Renungan) Keikhlasan Mulia

Cuaca hari ini sangatlah panas. Mbah Yono terus mengayuh sepeda tuanya menyisir jalan perumahan Bojong Asri demi menyambung hidup. Mbah Yono sudah puluhan tahun berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling. Jika orang lain mungkin berpikir "mau makan apa atau mau makan dimana saya malam ini?", mbah Yono cuma bisa berfikir "saya bisa makan atau tidak malam ini?" di tengah cuaca panas seperti ini pun terasa sangat sulit baginya untuk mendapatkan pelanggan. Bagi mbah Yono, setiap hari adalah hari kerja. Dimana ada peluang untuk menghasilkan rupiah, di situ dia akan terus berusaha. Hebatnya, beliau adalah orang yang sangat jujur. Meskipun miskin, tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain.
Jam 11, saat tiba di depan sebuah rumah mewah di ujung jalan, dia pun akhirnya mendapat pelanggan pertamanya hari ini. Seorang pemuda usia 20 tahunan, terlihat sangat terburu-buru.
Ketika mbah Yono menambal sepatunya yang bolong, ia terus-menerus melihat jam di tangan. Karena pekerjaan ini sudah digelutinya bertahun-tahun, dalam waktu singkat ia pun berhasil menyelesaikan pekerjaannya.
"Wah cepat sekali, berapa Pak?"
"5.000 rupiah Mas"
Sang pemuda pun mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dari dompetnya. Mbah Yono jelas kaget dan tentu ia tidak punya uang untuk kembalian, apalagi sang pemuda ini adalah pelanggan pertamanya hari ini.
"Wah Mas tidak ada uang pas ya?"
"Nggak ada Pak, uang saya tinggal selembar ini, belum direcehkan"
"Maaf Mas, saya tidak punya uang kembalian"
"Waduh repot juga kalo gitu. Ya sudah, saya tukerin dulu sebentar ke warung depan"
"Sudah tidak usah repot-repot Mas. Mas bawa dulu, karena saya perhatikan Mas sedang buru-buru. Lain waktu saja Mas kalau kita ketemu lagi."
"Oh, syukurlah kalo gitu. Ya sudah, makasih ya Pak."
Jam demi jam berlalu dan tampaknya ini adalah hari yang tidak menguntungkan bagi mbah Yono. Dia hanya memperoleh 1 pelanggan dan itu pun belum membayar. Ia terus menanamkan dalam hatinya, "ikhlas, insya ALLAH akan dapat gantinya."
Ketika waktu menunjukkan pukul 3 lebih ia pun menyempatkan diri shalat ashar di masjid depan lapangan bola sebuah sekolah. Selesai shalat ia berdoa,
"Ya ALLAH, izinkan aku mencicipi secuil rezeki-MU hari ini. Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendak-MU.”
Selesai berdoa panjang, ia pun bangkit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Ketika ia akan menuju sepedanya, ia kaget karena pemuda yang tadi siang menjadi pelanggannya telah menunggu di samping sepedanya.
"Wah kebetulan kita ketemu di sini, Pak. Ini bayaran yang tadi siang Pak."
Kali ini pemuda tadi tetap mengeluarkan uang seratus ribuan. Namun bukan hanya selembar, tapi 5 lembar.
"Loh, loh Mas? Ini Mas belum mecahin uang ya? Maaf Mas, saya masih belum punya untuk kembaliannya. Ini juga kok 5 lembar Mas, apa tidak salah ngambil Mas?"
"Sudah Pak, terima saja. Kembaliannya, sudah saya terima tadi, Pak. Hari ini saya ada wawancara kerja. Telat 5 menit saja, saya sudah pasti gagal Pak. Untung bapak membiarkan saya pergi dulu. Dan insya ALLAH minggu depan saya berangkat ke Prancis. Saya mohon doanya ya Pak"
"Tapi ini terlalu banyak Mas"
"Saya bayar jasa sol sepatu 5.000 rupiah, Pak. Sisanya untuk membayar kesuksesan saya dan keikhlasan bapak hari ini."
ALLAH punya cara tersendiri dalam menolong hamba-hamba-NYA yang mau berusaha dalam kesulitannya. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan pertolongan itu tiba
Sesungguhnya di dalam kesulitan ada kemudahan dan keikhlasan akan dibalas dengan keindahan
Sekian dan semoga bermanfaat....

Wednesday, August 22, 2012

(Renungan) Kesabaran Seorang Ibu


Suatu sore di depan rumah, seorang Ibu tua duduk di kursi rodanya, dia ditemani putrinya yang sudah mapan dan berkeluarga.
- Si Ibu bertanya : "Itu burung apa yang berdiri di sana?"
- Si Anak Menjawab : "Merpati, Bu..." (dengan sopan)
Tak lama kemudian si Ibu bertanya lagi...
- Si Ibu : "Itu yang warna putih burung apa?"
- Sedikit kesal Anaknya menjawab : "Ya merpati, Bu?!"
Kemudian sang ibu kembali bertanya...
- Sambil menunjuk burung merpati tadi yang sedang terbang, "Lantas itu burung apa?"
- Dengan nada kesal si anak menjawab : "Ya merpati, Bu.. kan sama saja..!! Apa Ibu tidak lihat dia terbang?!!"
Air menetes dari sudut mata sang Ibu sambil berkata pelan,
"30 tahun yang lalu aku memangkumu dan menjawab pertanyaan yang sama untukmu sebanyak 25 kali, sedangkan saat ini... aku hanya bertanya 3 kali, tapi kau membentakku 2 kali..."
Si anak terdiam... dan memeluk Ibunya.
Pernahkah kita memikirkan apa yang telah diajarkan oleh seorang Ibu kepada kita ?
Sayangilah Ibu-mu dengan sungguh-sungguh karena sesungguhnya Surga berada di telapak kaki Ibu.
Mohon ampunan jika kamu pernah menyakiti hati Ibumu.
Dan silahkan teruskan kepada para sobat yang perlu membaca renungan ini.
- Pernahkah kita memarahi dia?  "PERNAH!"
- Pernahkah kita tidak mempedulikan dia?  "PERNAH!"
- Pernahkah kita memikirkan apa yang dia pikirkan?  "TIDAK!"
- Sebenarnya apa yang dia pikirkan?  "TAKUT!"
- Takut tidak bisa melihat kita tersenyum, menangis atau tertawa lagi
- Takut tidak bisa mengajari kita lagi
Semua itu karena waktu Beliau yang singkat ...
Saat Ibu dan ayah menutup mata. Tidak akan ada lagi yang cerewet...
Saat kita menangis manggil-manggil Mereka, apa yang Mereka balas?  "Hanya diam" :(
Tapi bayangan Mereka tetap ada di samping kita dan berkata,  "Anakku jangan menangis, Ibu/Ayah masih di sini. Ibu/Ayah selalu menyayangimu" :(
Sekian dan semoga bermanfaat...

Friday, August 17, 2012

(Renungan) Perampok dan Anak Buta

Moore adalah seorang dokter terkenal dan dihormati, melalui tangannya sudah tak terhitung nyawa yang diselamatkan, dia tinggal disebuah kota tua di Prancis. 20 tahun yang lalu dia adalah seorang narapidana, kekasihnya mengkhianati dia lari ke pelukan lelaki lain, karena emosinya dia melukai lelaki tersebut, maka dia dari seorang mahasiswa di universitas terkenal menjadi seorang narapidana, dia pun dipenjara selama 3 tahun.
Setelah dia keluar dari penjara, kekasihnya telah menikah dengan pria lain, karena statusnya sebagai bekas narapidana menyebabkannya menjadi bahan ejekan dan penghinaan ketika melamar pekerjaan. Dalam keadaan sakit hati, Moore memutuskan akan menjadi perampok. Dia telah mengincar salah satu rumah di bagian selatan kota, para orang dewasa di rumah tersebut semuanya pergi bekerja sampai malam baru pulang ke rumah, di dalam rumah hanya ada seorang anak kecil buta yang tinggal sendirian.
Dia pergi ke rumah tersebut mencongkel pintu utama membawa sebuah pisau belati, masuk ke dalam rumah, sebuah suara lembut bertanya, "Siapa itu?" Moore sembarangan menjawab, "Saya adalah teman papamu, dia memberikan kunci rumah kepadaku."
Anak kecil ini sangat gembira, tanpa curiga berkata, "Selamat datang, namaku Kay, tetapi papaku malam baru sampai ke rumah, paman apakah engkau mau bermain sebentar dengan saya?" Dia memandang dengan mata yang besar dan terang tetapi tidak melihat apapun, dengan wajah penuh harapan, di bawah tatapan memohon yang tulus, Moore lupa kepada tujuannya dan langsung menyetujui.
Yang membuat dia sangat heran adalah anak berumur 8 tahun dan buta ini dapat bermain piano dengan lancar, lagu-lagu yang dimainkannya pun sangat indah, padahal bagi seorang anak normal harus melakukan upaya besar sampai ke tingkat seperti anak buta ini, setelah selesai bermain piano anak ini melukis sebuah lukisan yang dapat dirasakan di dalam dunia anak buta ini, seperti matahari, bunga, ayah-ibu, teman-teman, dunia anak buta ini rupanya tidak kosong, walaupun lukisannya kelihatannya sangat canggung, yang bulat dan persegi tidak dapat dibedakan, tetapi dia melukis dengan sangat serius dan tulus.
"Paman, apakah matahari seperti ini?" Moore tiba-tiba merasa sangat terharu, lalu dia melukis di telapak tangan anak ini beberapa bulatan, "Matahari bentuknya bulat dan terang, dan warnanya keemasan."
"Paman, apa warna keemasan itu?" dia mendongakkan wajahnya yang mungil bertanya, Moore terdiam sejenak, lalu membawa anak kecil itu ke tempat terik matahari, "Emas adalah sebuah warna yang sangat vitalitas, bisa membuat orang merasa hangat, sama seperti kita memakan roti yang bisa memberi kita kekuatan."
Anak buta ini dengan gembira sambil tangannya meraba ke empat penjuru, "Paman, saya sudah merasakan, sangat hangat, dia pasti akan sama dengan warna senyuman paman." Moore dengan penuh sabar menjelaskan kepadanya berbagai warna dan bentuk barang, dia sengaja menggambarkan dengan hidup, sehingga anak yang penuh imajinasi ini mudah mengerti. Anak buta ini mendengar ceritanya dengan sangat serius, walaupun dia buta, tetapi rasa sentuh dan pendengaran anak ini lebih tajam dan kuat daripada anak normal, tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat.
Akhirnya, Moore teringat tujuan kedatangannya, tetapi Moore tidak mungkin lagi merampok. Hanya karena kecaman dan ejekan dari masyarakat dia akan melakukan kejahatan lagi, berdiri di hadapan Kay dia merasa sangat malu, lalu dia menulis sebuah catatan untuk orang tua Kay, "Tuan dan nyonya yang terhormat, maafkan saya mencongkel pintu rumah kalian, kalian adalah orang tua yang hebat, dapat mendidik anak yang demikian baik, walaupun matanya buta, tetapi hatinya sangat terang, dia mengajarkan kepada saya banyak hal, dan membuka pintu hati saya."
Tiga tahun kemudian, Moore menyelesaikan kuliahnya di universitas kedokteran, dan memulai karirnya sebagai seorang dokter.
Lalu enam tahun kemudian, dia dan rekan-rekannya mengoperasi mata Kay, sehingga Kay bisa melihat keindahan dunia ini, bahkan menjadi seorang pianis terkenal. Kay mengadakan konser ke seluruh dunia, setiap mengadakan konser, Moore selalu berusaha menghadirinya, duduk di sebuah sudut yang tidak mencolok, mendengarkan musik indah menyirami jiwanya yang dimainkan oleh seorang pianis yang dulunya buta.
Ketika Moore mengalami kekecewaan terhadap dunia dan kehidupannya, semangat dan kehangatan Kay kecil yang buta ini yang memberikan kehangatan dan kepercayaan diri kepadanya, Kay kecil yang tinggal di dalam dunia yang gelap, sama sekali tidak pernah putus asa dan menyia-nyiakan hidupnya, dia membuat orang menyadari betapa besar vitalitas dalam hidup ini, vitalitas dan semangat ini menyentuh ke dasar hati Moore.
Cinta dan harapan akan dapat membuat seseorang kehilangan niat melakukan kejahatan, sedikit harapan mungkin bisa menyembuhkan seorang yang putus asa, atau bahkan bisa mengubah nasib kehidupan seseorang atau kehidupan banyak orang, seperti Moore yang telah membantu banyak orang, ketika mengalami putus asa maka bukalah pintu hatimu, maka cahaya harapan akan menyinari hatimu.
Sumber Forum VIVA

Tuesday, August 14, 2012

(Renungan) Ibuku Bermata Satu

Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengenal sedikit kehidupan yang menyenangkan, merasakan kebahagiaan memiliki wajah yang tampan, kebahagiaan memiliki banyak pengagum di sekolah, kebahagiaan karena kepintaranku yang dibanggakan banyak guru. Itulah aku, tapi satu yang harus aku tutupi, aku malu mempunyai seorang ibu yang BERMATA SATU! Yah, matanya hanya ada satu. Aku benar-benar merasa malu.
Aku sangat menginginkan kesempurnaan terletak padaku, tak ada satupun yang cacat dalam hidupku juga dalam keluargaku. Saat kecil, ayah yang menjadi tulang punggung kami sudah dipanggil terlebih dahulu oleh yang Maha Kuasa. Tinggallah aku anak semata wayang yang seharusnya menjadi tulang punggung pengganti ayah. Tapi semua itu tak kuhiraukan. Aku hanya mementingkan kebutuhan dan keperluanku saja. Sedang ibu bekerja membuat makanan untuk para buruh di sebuah rumah jahit sederhana.
Pada suatu hari ibu datang ke sekolah untuk menjenguk keadaanku. Karena sudah beberapa hari aku tak pulang ke rumah dan tidak tidur di rumah. Rumah kumuh itu membuatku muak, membuat kesempurnaan yang kumiliki menjadi cacat. Aku berjanji, apapun akan aku lakukan untuk menggapai sebuah kesempurnaan itu.
Tepat di saat istirahat, kulihat sosok wanita tua dengan mata bolong sebelah berdiri di pintu sekolah. Bajunya pun bersahaja rapih dan sopan. Itulah ibuku yang mempunyai mata satu. Dan yang selalu membuat aku malu dan yang lebih memalukan lagi Ibu memanggilku. "Mau ngapain ibu ke sini?! Ibu datang hanya untuk mempermalukan aku?!" Bentakkan dariku membuat ibuku segera bergegas pergi. Dan memang itulah yang kuharapkan. Ibu pun bergegas keluar dari sekolahku. Karena kehadirannya itu aku benar-benar malu, sangat malu. Sampai beberapa temanku berkata dan menanyakan. "Hai, itu ibumu ya?, Ibumu matanya kok cuma satu?" bagai disambar petir mendapat pertanyaan seperti itu. Aku pun segera menjawab, "Mana mungkin aku punya ibu semacam itu, itu hanya pengemis yang minta sedekah kok".
Beberapa bulan kemudian aku lulus sekolah dan mendapat beasiswa di sebuah sekolah di luar negeri. Aku mendapatkan beasiswa yang selama ini kuincar dan kukejar agar aku bisa segera meninggalkan rumah kumuhku dan terutama meninggalkan perempuan yang selama ini membuatku malu. Dan ternyata aku berhasil mendapatkannya. Dengan bangga kubusungkan dada dan aku berangkat pergi tanpa memberi tahu Ibu karena bagiku itu tidak perlu. "Aku hidup untuk diriku sendiri. Persetan dengan Ibuku. Dia hanya seorang perempuan yang selalu menghalangi kemajuanku".
Di sekolah itu, aku menjadi mahasiswa paling populer karena kepintaran dan ketampananku. Aku pun telah sukses dan kemudian aku menikah dengan seorang gadis Indonesia dan menetap di Singapura.
Singkat cerita aku menjadi seorang yang sukses, sangat sukses. Tempat tinggalku sangat mewah, aku mempunyai seorang anak laki-laki berusia tiga tahun dan aku sangat menyayanginya. Bahkan aku rela mempertaruhkan nyawaku untuk putraku itu.
10 tahun aku menetap di Singapura, belajar dan membina rumah tangga dengan harmonis dan sekali pun aku tak pernah memikirkan nasib ibuku. Sedikit pun aku tak rindu padanya, aku tak mencemaskannya. Aku BAHAGIA dengan kehidupanku sekarang.
Tapi pada suatu hari kehidupanku yang sempurna tersebut terusik, saat putraku sedang asyik bermain di depan pintu. Tiba-tiba datang seorang wanita tua renta dan sedikit kumuh menghampirinya. Dan kulihat dia adalah Ibuku, Ibuku datang ke Singapura. Entah untuk apa dan dari mana dia memperoleh ongkosnya. Dia datang menemuiku.
Seketika saja perempuan itu aku usir. Dengan entengnya aku menghardiknya, "HEY, PERGILAH KAU PENGEMIS. KAU MEMBUAT ANAKKU TAKUT!". Dan tanpa membalas perkataan kasarku, Ibu lalu tersenyum sambil berkata, "MAAF, SAYA SALAH ALAMAT"
Tanpa merasa besalah, aku pun masuk ke dalam rumah.
Beberapa bulan kemudian datanglah sepucuk surat undangan reuni dari sekolah SMA ku. Aku pun datang untuk menghadirinya dan beralasan pada istriku bahwa aku akan dinas ke luar negeri.
Singkat cerita, tibalah aku di kota kelahiranku. Tak lain hanya ingin menghadiri pesta reuni dan sedikit menyombongkan diri akan kesuksesanku ini. Berhasil aku membuat seluruh teman-temanku kagum pada diriku yang sekarang ini.
Selesai Reuni entah mengapa aku ingin melihat keadaan rumahku dulu sebelum pulang ke Singapura. Tak tahu perasaan apa yang membuatku melangkah untuk melihat rumah kumuh dan perempuan tua itu. Sesampainya di depan rumah itu, tak ada perasaan sedih atau bersalah sedikitpun, bahkan aku sendiri sebenarnya jijik melihatnya. Dengan rasa tanpa berdosa, aku memasuki rumah itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Kulihat rumah ini begitu berantakan. Aku tak menemukan sosok wanita tua di dalam rumah itu, entahlah dia sedang ke mana, tapi justru aku merasa lega tidak bertemu dengannya.
Bergegas aku keluar dan bertemu dengan salah satu tetangga rumahku. "Akhirnya kau datang juga. Ibumu telah meninggal dunia seminggu yang lalu"
"OH…"
Hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Sedikit pun tak ada rasa sedih di hati yang kurasakan saat mendengar ibuku telah meninggal. "Ini, sebelum meninggal, Ibumu menitipkan surat ini untukmu".
Setelah menyerahkan surat ia segera bergegas pergi. Kubuka lembar surat yang sudah kucel itu. Dan kubaca,
Untuk anakku yang sangat Aku cintai,
Anakku yang kucintai, Ibu tahu kau sangat membenci ibu. Tapi Ibu senang sekali waktu mendengar kabar bahwa akan ada reuni di sekolahmu.
Ibu berharap, semoga ibu bisa melihatmu sekali lagi. karena ibu yakin kau akan datang ke acara reuni itu.
Anakku, ibu sangat merindukanmu, teramat dalam sehingga setiap malam ibu hanya bisa menangis sambil memandangi fotomu satu-satunya yang ibu punya. Ibu tak pernah lupa untuk mendoakan kebahagiaanmu, agar kau bisa sukses dan melihat dunia luas.
Hanya untuk kau ketahui saja anakku tersayang, bahwasannya mata yang kau pakai untuk melihat dunia luas itu, salah satunya adalah mata ibu yang selalu membuatmu malu.
Satu mata ibu yang ibu berikan padamu waktu kau kecil. Waktu itu kau dan Ayahmu mengalami kecelakaan yang hebat, yang merengut nyawa ayahmu, sedangkan mata kananmu mengalami kebutaan. Ibu tak tega jika kelak anak tersayangku ini hidup dan tumbuh dengan mata yang cacat maka ibu berikan satu mata ini untukmu.
Sekarang ibu bangga padamu karena kau bisa meraih apa yang kau inginkan dan cita-citakan. Dan ibupun sangat bahagia bisa melihat dunia luas melalui mata yang ibu berikan untukmu.
Saat ibu menulis surat ini, ibu masih berharap bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya. Tapi rasanya itu tidak mungkin, karena ibu yakin maut sudah hendak menjemput untuk segera bergabung dengan ayahmu.
Peluk cium dari Ibumu yang senantiasa mencintai dan menyayangimu
Bak petir di siang bolong menghantam seluruh saraf-sarafku, Aku terdiam! Baru kusadari bahwa yang membuatku malu sebenarnya bukan ibuku, tetapi diriku sendiri...
Semoga saja anak-anak kita kelak tidak seperti tokoh yang ada dalam kisah ini.
Amien...

Saturday, August 11, 2012

(Renungan) Kasih Sayang Ibu Tak Terlihat

Suatu sore, Maria bertengkar hebat dengan ibunya. Karena sangat marah, Maria langsung meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat melangkah di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Saat menyusuri sebuah gang, ia melewati sebuah kedai mi rebus dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk mi rebus, namun ia tidak punya uang.
Pemilik kedai melihat Maria berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata,
"Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk mi?"
"Ya, bu, tetapi aku tidak membawa uang", jawab Maria dengan malu-malu.
"Tidak apa-apa, saya akan memberikannya gratis.. Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu". jawab si pemilik kedai.
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk mi. Maria segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.
"Ada apa nona?" tanya si pemilik kedai.
"Tidak apa-apa, bu, saya hanya terharu", jawab Maria sambil mengeringkan air matanya. "Saya sedih, seorang yang baru saya kenal pun memberi saya semangkuk mi. Tetapi, ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, malah mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan pernah kembali lagi ke rumah. Sedangkan Anda, seorang yang baru saja saya kenal, begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri". katanya kepada pemilik kedai.
Setelah mendengar perkataan Maria, pemilik kedai itu menarik nafas panjang dan berkata, "Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk mi rebus seharga tiga ribu rupiah dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak mi rebus dan nasi untukmu sejak kau kecil hingga saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya"
Maria, terhenyak mendengar hal tersebut. "Oh Tuhan.. mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk mi rebus dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun sejak aku kecil, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya."
Maria, segera menghabiskan makanannya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Saat bertemu dengan Maria, kalimat yang keluar dari sang ibu adalah "Maria.. kau sudah pulang nak, cepatlah masuk, ibu sudah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, nanti makanannya keburu dingin jika tidak kamu makan sekarang".
Maria tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan sang ibu.
♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥
Tak jarang, kita sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita seringkali lupa untuk berterima kasih kepada mereka.
Seringkali kita menganggap pengorbanan mereka merupakan suatu proses alami yang biasa saja; namun sesungguhnya kasih sayang dan kepedulian orang tua kita adalah hadiah paling berharga yang diberikan kepada kita sejak kita lahir.

Thursday, August 9, 2012

(Renungan) Kisah Haru Anak Keterbelakangan

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh.
Sam, suamiku, memberinya nama Eric.
Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja.
Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga.
Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil.
Saya menamainya Angelica.
Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.
Namun tidak demikian halnya dengan Eric.
Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.
Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup.
Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang.
Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.
Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.
Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan.
Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.
Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar di kepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu. tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya.
"Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric". Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping.
"Mary, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Oh, Brad.. kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu." aku menceritakannya juga dengan terisak-isak. Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian.
Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan "Eric.. Eric..."
Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama. Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya.
Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali.
Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
"Heii..! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya,
"Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"
"Memang kamu siapa?!", tanya si wanita tua.
"Saya ibunya Eric, bu...", jawab saya.
Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh tega, Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy.. mommy..!' Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu."
Saya pun membaca tulisan di kertas itu.
"Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi? Mommy marah ya, sama Eric? Mom, biarlah Eric saja yang pergi, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..."
Saya menjerit histeris membaca surat itu.
"Bu, tolong katakan. Katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!"
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
"Nyonya, semua sudah terlambat. Baru saja kemari, sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi jika melihatnya ada di dalam sana. Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini. Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana."

Wednesday, August 8, 2012

(Renungan) Cinta Seorang Anak Kepada Ibunya

Seorang janda miskin Rustini memiliki anak perempuan berumur 7 tahun bernama Dewi. Keadaan mengharuskan Dewi untuk membantu ibunya berjualan gorengan di pasar.
Pada suatu musim hujan saat selesai membuat gorengan, Rustini melihat keranjangnya sudah rusak berlubang, lalu Rustini berpesan pada putrinya untuk menunggunya di rumah karena ia akan membeli keranjang baru.
Saat pulang, Rustini tidak menemukan Dewi berada di rumah. Rustini sangat marah, anaknya benar-benar tidak tahu diri, hidup sudah susah tapi masih saja pergi bermain, padahal tadi sudah disuruh untuk menunggu rumah.
Akhirnya Rustini pergi untuk menjual gorengan ke pasar dan sebagai hukuman untuk putrinya pintu rumah dikunci dari luar, agar Dewi tidak dapat masuk. Menurutnya Dewi harus diberi pelajaran biar kapok, pikirnya kesal.
Sepulang dari menjual gorengan, Rustini melihat Dewi anaknya, gadis kecil itu tergeletak di depan pintu. Rustini berlari memeluk Dewi yang basah kuyup dan sudah tidak bernyawa lagi.
Jeritan Rustini memecah derasnya hujan kala itu. Ia menangis meraung-raung, tetapi Dewi tetap tidak bergerak. Dengan segera Rustini membopong Dewi masuk ke dalam rumah. Rustini mengguncang tubuh beku putri mungilnya sambil meneriakkan nama Dewi.
Tiba-tiba sebuah bingkisan kecil jatuh dari tangan Dewi. Rustini mengambil bungkusan kecil itu dan membuka isinya. Ternyata isinya sebuah kue kecil yang dibungkus kertas usang dan pada bungkusan itu terdapat tulisan kecil yang tak lain adalah tulisan Dewi yang berantakan tapi masih dapat dibaca,
Mama pasti lupa, ini adalah hari istimewa mama,
Dewi beli kue kecil ini untuk hadiah.
Maapin Dewi ya ma...
Uang Dewi tidak cukup untuk beli kue yang besar…
"Selamat ulang tahun Mama"