Friday, July 27, 2012

Logo SMK Farmasi Bhakti Husada Karanganyar Kebumen

 

Logo SMK Farmasi Bhakti Husada (hitam putih)

Logo SMK Farmasi, Lambang SMK Farmasi, Logo SMK Farmasi Bhakti Husada,  Lambang SMK Farmasi Bhakti Husada, Logo SMK Farmasi Karanganyar Kebumen, Lambang SMK Farmasi Kebumen, SMK Farmasi Bhakti Husada Karanganyar, Wallpaper Logo SMK Farmasi, Wallpaper Lambang SMK Farmasi, Gambar Logo SMK Farmasi, Gambar Logo SMK Farmasi

Download Logo SMK, Logo SMA Negeri dan MA disini

Thursday, July 26, 2012

Imam Tirmidzi

Imam Tirmidzi

824 - 892
Khazanah keilmuan Islam klasik mencatat sosok Imam Tirmidzi sebagai salah satu periwayat dan ahli hadits utama, selain Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Ahmad, Imam Abu Daud, dan sederet nama lainnya. Karyanya, Kitab al-Jami', atau biasa dikenal dengan kitab Jami' Tirmidzi, menjadi salah satu rujukan penting berkaitan masalah Hadits dan ilmunya, serta termasuk dalam Kutubus Sittah (enam kitab pokok di bidang Hadits) dan ensiklopedia Hadits terkenal. Sosok penuh tawadhu' dan ahli ibadah ini tak lain adalah Imam Tirmidzi.
Dilahirkan pada 209 H di kota Tirmiz, Imam Tirmidzi bernama lengkap Imam al-Hafiz Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Ad-Dahhak As-Sulami at-Tirmidzi. Sejak kecil, Imam Tirmidzi gemar belajar ilmu dan mencari Hadits. Untuk keperluan inilah ia mengembara ke berbagai negeri, antara lain Hijaz, Irak, Khurasan, dan lain-lain.
Dalam lawatannya itu, ia banyak mengunjungi ulama-ulama besar dan guru-guru hadits untuk mendengar hadits dan kemudian dihafal dan dicatatnya dengan baik. Di antara gurunya adalah; Imam Ahmad, Imam Bukhori, Imam Muslim, dan Imam Abu Daud. Selain itu, ia juga belajar pada Imam Ishak bin Musa, Mahmud bin Gailan, Said bin Abdurrahman, Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni', dan lainnya.
Di kemudian hari, kumpulan hadits dan ilmu-ilmunya dipelajari dan diriwayatkan oleh banyak ulama, di antaranya; Makhul ibnul-Fadl, Muhammad bin Mahmud Anbar, Hammad bin Syakir, Abd bin Muhammad an-Nasfiyyun, al-Haisam bin Kulaib asy-Syasyi, Ahmad bin Yusuf an-Nasafi, Abul-Abbas Muhammad bin Mahbud al-Mahbubi, yang meriwayatkan kitab al-Jami' daripadanya, dan lain-lain. Mereka ini pula murid-murid Imam Tirmidzi.
Banyak kalangan ulama dan ahli hadits mengakui kekuatan dan kelebihan dalam diri Imam Tirmidzi. Selain itu, kesalehan dan ketakwaannya pun tak dapat diragukan lagi. Salah satu ulama itu, ibnu Hibban al-Busti, pakar hadits, mengakui kemampuan Tirmidzi dalam menghafal, menghimpun, menyusun, dan meneliti hadits, sehingga menjadikan dirinya sumber pengambilan hadits para ulama terkenal, termasuk Imam Bukhori.
Sementara kalangan ulama lainnya mengungkapkan, Imam Tirmidzi adalah sosok yang dapat dipercaya, amanah, dan sangat teliti. Kisah yang dikemukakan al-Hafiz ibnu Hajar dalam Tahzib at-Tahzibnya, dari Ahmad bin Abdullah bin Abu Dawud, berikut adalah salah satu bukti kelebihan sang Imam :
Saya mendengar Abu Isa at-Tirmidzi berkata, "Pada suatu waktu dalam perjalanan menuju Mekkah, dan ketika itu saya telah menulis dua jilid buku berisi hadits-hadits berasal dari seorang guru. Guru tersebut berpapasan dengan kami. Lalu saya bertanya-tanya mengenai dia, mereka menjawab bahwa dialah orang yang kumaksudkan itu. Kemudian saya menemuinya. Dia mengira bahwa 'dua jilid kitab' itu ada padaku. Ternyata yang kubawa bukanlah dua jilid tersebut, melainkan dua jilid lain yang mirip dengannya. Ketika saya bertemu dengannya, saya memohon kepadanya untuk mendengar hadits, dan ia mengabulkan permohonan itu. Kemudian ia membacakan hadits yang telah dihafalnya. Di sela-sela pembacaan itu ia mencuri pandang dan melihat bahwa kertas yang kupegang ternyata masih putih bersih tanpa ada tulisan sesuatu apa pun. Melihat kenyataan itu, ia berkata, 'Tidakkah engkau malu kepadaku?' Lalu aku bercerita dan menjelaskan kepadanya bahwa apa yang ia bacakan itu telah kuhafal semuanya. 'Coba bacakan!' perintahnya. Aku pun membacakan seluruhnya secara beruntun. Ia bertanya lagi, 'Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?' Aku menjawab, 'Tidak.' Kemudian saya meminta lagi agar dia meriwayatkan hadits yang lain. Ia pun kemudian membacakan 40 hadits yang tergolong hadits-hadits sulit atau gharib lalu berkata, 'Coba ulangi apa yang kubacakan tadi!' Lalu aku membacakannya dari pertama sampai selesai, dan ia berkomentar, 'Aku belum pernah melihat orang seperti engkau.'
Ahli Fiqh
Selain dikenal sebagai ahli dan penghafal hadits, mengetahui kelemahan-kelemahan dan perawi-perawinya, Imam Tirmidzi juga dikenal sebagai ahli fiqh dengan wawasan dan pandangan luas. Pandangan-pandangan tentang fiqh itu misalnya, dapat ditemukan dalam kitabnya al-Jami'.
Kajian-kajiannya mengenai persoalan fiqh ini pula mencerminkan dirinya sebagai ulama yang sangat berpengalaman dan mengerti betul duduk permasalahan yang sebenarnya. Sebagai tamsil, penjelasannya terhadap sebuah hadits mengenai penangguhan membayar piutang yang dilakukan si berutang yang sudah mampu, sebagai berikut: "Muhammad bin Basysyar bin Mahdi menceritakan kepada kami. Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abi az-Zunad, dari al-Arai dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, bersabda: "Penangguhan membayar utang (yang dilakukan oleh si berutang) yang mampu adalah suatu kezaliman. Apabila seseorang di antara kamu dipindahkan utangnya kepada orang lain yang mampu membayar, hendaklah pemindahan utang itu diterimanya."
Bagaimana penjelasan sang Imam? Berikut ini komentar beliau, "Sebagian ahli ilmu berkata: 'Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang mampu membayar dan ia menerima pemindahan itu, maka bebaslah orang yang memindahkan (muhil) itu, dan bagi orang yang dipindahkan piutangnya (muhtal) tidak dibolehkan menuntut kepada muhil.' Sementara sebagian ahli lainnya mengatakan: 'Apabila harta seseorang (muhtal) menjadi rugi disebabkan kepailitan muhal 'alaih, maka baginya dibolehkan menuntut bayar kepada orang pertama (muhil). Alasannya adalah, tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim. Menurut ibnu Ishak, perkataan 'Tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim' ini adalah 'Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang dikiranya mampu, namun ternyata orang lain itu tidak mampu, maka tidak ada kerugian atas harta benda orang Muslim (yang dipindahkan utangnya) itu'." demikian penjelasan Imam Tirmidzi.
Ini adalah satu contoh yang menunjukkan kepada kita, betapa cemerlangnya pemikiran fiqh Imam Tirmidzi dalam memahami nash-nash hadits, serta betapa luas dan orisinal pandangannya itu.
Karya-karya Imam Tirmidzi
Hingga meninggalnya, Imam Tirmidzi telah menulis puluhan kitab, diantaranya:
- Kitab al-Jami' (Sunan at-Tirmidzi)
- Kitab al-'Ilal
- Kitab at-Tarikh
- Kitab asy-Syama'il an-Nabawiyyah
- Kitab az-Zuhd
- Kitab al-Asma' wal-Kuna.
Selain dikenal dengan sebutan Kitab Jami' Tirmidzi, kitab ini juga dikenal dengan nama Sunan at-Tirmidzi. Di kalangan muhaddisin (ahli hadits), kitab ini menjadi rujukan utama, selain kitab-kitab Hadits lainnya dari Imam Bukhori maupun Imam Muslim.
Kitab Sunan Tirmidzi dianggap sangat penting lantaran kitab ini betul-betul memperhatikan ta'lil (penentuan nilai) Hadits dengan menyebutkan secara eksplisit Hadits yang sahih. Itu sebabnya, kitab ini menduduki peringkat ke-4 dalam urutan Kutubus Sittah, atau menurut penulis buku Kasyf Az Zunuun, Hajji Khalfah (w. 1657), kedudukan Sunan Tirmidzi berada pada tingkat ke-3 dalam hierarki Kutubus Sittah.
Tidak seperti kitab Hadits Imam Bukhori, atau yang ditulis Imam Muslim dan lainnya, kitab Sunan Tirmidzi dapat dipahami oleh siapa saja, yang memahami bahasa Arab tentunya. Dalam menyeleksi Hadits untuk kitabnya itu, Imam Tirmidzi bertolak pada dasar apakah hadits itu dipakai oleh fuqaha (ahli fikih) sebagai hujjah (dalil) atau tidak. Sebaliknya, Tirmidzi tidak menyaring hadits dari aspek hadits itu dhaif atau tidak. Itu sebabnya, ia selalu memberikan uraian tentang nilai hadits, bahkan uraian perbandingan dan kesimpulannya.
Diriwayatkan, bahwa ia pernah berkata: "Semua hadits yang terdapat dalam kitab ini adalah dapat diamalkan." Oleh karena itu, sebagian besar ahli ilmu menggunakannya (sebagai pegangan), kecuali dua hadits, yaitu: Pertama, yang artinya: "Sesungguhnya Rosululloh SAW menjamak shalat Dhuhur dengan Ashar, dan Maghrib dengan Isya, tanpa adanya sebab takut dan dalam perjalanan.'' Juga hadits, "Jika ia peminum khamar, minum lagi pada yang keempat kalinya, maka bunuhlah dia." Hadits mengenai hukuman untuk peminum khamar ini adalah mansukh (terhapus) dan ijma' ulama pun menunjukkan demikian. Sedangkan mengenai shalat jamak, para ulama berbeda pendapat atau tidak sepakat untuk meninggalkannya. Sebagian besar ulama berpendapat boleh hukumnya melakukan shalat jamak di rumah selama tidak dijadikan kebiasaan. Pendapat ini adalah pendapat Ibn Sirin dan Asyab serta sebagian besar ahli fiqh dan ahli hadits juga Ibn Munzir.
Beberapa keistimewaan Kitab Jami' atau Sunan Tirmidzi adalah, pencantuman riwayat dari sahabat lain mengenai masalah yang dibahas dalam hadits pokok (Hadits al-Bab), baik isinya yang semakna maupun yang berbeda, bahkan yang bertentangan sama sekali secara langsung maupun tidak langsung.
Selain itu, keistimewaan yang langsung kaitannya dengan ulum al-Hadits (ilmu-ilmu Hadits) adalah masalah ta'lil hadits. Hadits-hadits yang dimuat disebutkan nilainya dengan jelas, bahkan nilai rawinya yang dianggap penting. Kitab ini dinilai positif karena dapat digunakan untuk penerapan praktis kaidah-kaidah ilmu Hadits, khususnya ta'lil Hadits tersebut.
Wafat
Perjalanan panjang pengembaraannya mencari ilmu, bertukar pikiran, dan mengumpulkan hadits itu mengantarkan dirinya sebagai ulama hadits yang sangat disegani kalangan ulama semasanya. Kendati demikian, takdir menggariskan lain. Daya upaya mulianya itu pula yang pada akhir kehidupannya mendapat musibah kebutaan, dan beberapa tahun lamanya ia hidup sebagai tuna netra. Dalam kondisi seperti inilah, Imam Tirmidzi meninggal dunia. Ia wafat di Tirmidz malam Senin 13 Rajab tahun 279 H (8 Oktober 892) pada usia 68 tahun.
Semoga ALLAH SWT merahmatinya, mengampuni segala kesalahannya, serta menggolongkannya ke dalam golongan orang-orang yang sholeh. Amien...
Sumber:
- Al-Jami’ (Sunan Tirmidzi) karya Imam al-Hafiz Abu Isa Muhammad at-Tirmidzi
- Al-Imām al-Juzajani wa-manhajuhu fi al-jarḥ wa-al-taʻdil karya Abdul al-ʻAlim Abd al-ʻAzim al-Bastawi

Imam Muslim

Imam Muslim

(817 - 875)
Imam Muslim dilahirkan di Naisabur pada tahun 202 H atau 817 M. Imam Muslim bernama lengkap Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Naisabur, yang sekarang ini termasuk wilayah Rusia, dalam sejarah Islam kala itu termasuk dalam sebutan Maa Wara'a an-Nahr, artinya daerah-daerah yang terletak di sekitar Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah. Pada masa Dinasti Samanid, Naisabur menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan selama lebih kurang 150 tahun. Seperti halnya Baghdad di abad pertengahan, Naisabur, juga Bukhara (kota kelahiran Imam Bukhori) sebagai salah satu kota ilmu dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah. Di sini pula bermukim banyak ulama besar.
Perhatian dan minat Imam Muslim terhadap ilmu hadits memang luar biasa. Sejak usia dini, beliau telah berkonsentrasi mempelajari hadits. Pada tahun 218 H, beliau mulai belajar hadits, ketika usianya kurang dari lima belas tahun. Beruntung, beliau dianugerahi kelebihan berupa ketajaman berfikir dan ingatan hafalan. Ketika berusia sepuluh tahun, Imam Muslim sering datang dan berguru pada seorang ahli hadits, yaitu Imam ad-Dakhili. Setahun kemudian, beliau mulai menghafal hadits Nabi SAW, dan mulai berani mengoreksi kesalahan dari gurunya yang salah menyebutkan periwayatan hadits.
Selain kepada ad-Dakhili, Imam Muslim pun tak segan-segan bertanya kepada banyak ulama di berbagai tempat dan negara. Berpetualang menjadi aktivitas rutin bagi dirinya untuk mencari silsilah dan urutan yang benar sebuah hadits. Beliau, misalnya pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dalam lawatannya itu, Imam Muslim banyak bertemu dan mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits kepada mereka. Di Khurasan, beliau berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray beliau berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu 'Ansan. Di Irak beliau belajar hadits kepada Imam Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz beliau belajar kepada Sa'id bin Mansur dan Abu Mas 'Abuzar; di Mesir beliau berguru kepada 'Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan ulama ahli hadits lainnya.
Bagi Imam Muslim, Baghdad memiliki arti tersendiri. Di kota inilah beliau berkali-kali berkunjung untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits. Kunjungannya yang terakhir beliau lakukan pada tahun 259 H. Ketika Imam Bukhori datang ke Naisabur, Imam Muslim sering mendatanginya untuk bertukar pikiran sekaligus berguru padanya. Saat itu, Imam Bukhori yang memang lebih senior, lebih menguasai ilmu hadits ketimbang dirinya.
Ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhori dan az-Zihli, beliau bergabung kepada Imam Bukhori. Sayang, hal ini kemudian menjadi sebab terputusnya hubungan dirinya dengan Imam az-Zihli. Yang lebih menyedihkan, hubungan tak baik itu merembet ke masalah ilmu, yakni dalam hal penghimpunan dan periwayatan hadits-hadits Nabi SAW.
Imam Muslim dalam kitab shahihnya maupun kitab-kitab lainnya tidak memasukkan hadits-hadits yang diterima dari az-Zihli, padahal beliau adalah gurunya. Hal serupa juga beliau lakukan terhadap Bukhori. Tampaknya bagi Imam Muslim tak ada pilihan lain kecuali tidak memasukkan ke dalam Kitab Shahihnya hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu. Kendatipun demikian, dirinya tetap mengakui mereka sebagai gurunya.
Imam Muslim yang dikenal sangat tawadhu' dan wara' dalam ilmu itu telah meriwayatkan puluhan ribu hadits. Menurut Muhammad Ajaj al-Khatib, guru besar hadits pada Universitas Damaskus, Syria, hadits yang tercantum dalam karya besar Imam Muslim, Shahih Muslim, berjumlah 3.030 hadits tanpa pengulangan. Bila dihitung dengan pengulangan, katanya, berjumlah sekitar 10.000 hadits. Sementara menurut Imam al-Khuli, ulama besar asal Mesir, hadits yang terdapat dalam karya Muslim tersebut berjumlah 4.000 hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan pengulangan. Jumlah hadits yang beliau tulis dalam Shahih Muslim itu diambil dan disaring dari sekitar 300.000 hadits yang beliau ketahui. Untuk menyaring hadits-hadits tersebut, Imam Muslim membutuhkan waktu 15 tahun.
Mengenai metode penyusunan hadits, Imam Muslim menerapkan prinsip-prinsip ilmu jarh, dan ta'dil, yakni suatu ilmu yang digunakan untuk menilai cacat tidaknya suatu hadits. Beliau juga menggunakan sighat at-tahammul (metode-metode penerimaan riwayat), seperti haddasani (menyampaikan kepada saya), haddasana (menyampaikan kepada kami), akhbarana (mengabarkan kepada saya), akhabarana (mengabarkan kepada kami), dan qaalaa (ia berkata).
Imam Muslim menjadi orang kedua terbaik dalam masalah ilmu hadits (sanad, matan, kritik, dan seleksinya) setelah Imam Bukhori. "Di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat orang; salah satu di antaranya adalah Imam Muslim," komentar ulama besar Abu Quraisy al-Hafizh. Maksud ungkapan itu tak lain adalah ahli-ahli hadits terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy.
Mengikuti Jejak sang Guru
Dalam khazanah ilmu-ilmu Islam, khususnya dalam bidang ilmu hadits, nama Imam Muslim begitu monumental, setara dengan gurunya, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhary al-Ju’fy atau lebih dikenal dengan nama Imam Bukhori. Sejarah Islam sangat berhutang jasa kepadanya, karena prestasinya di bidang ilmu hadits, serta karya ilmiahnya yang luar biasa sebagai rujukan ajaran Islam, setelah al-Quran. Dua kitab hadits shahih karya Bukhori dan Muslim sangat berperan dalam standarisasi bagi akurasi aqidah, syariah dan tasawwuf dalam dunia Islam.
Melalui karyanya yang sangat berharga, al-Musnad ash-Shahih, atau al-Jami’ ash-Shahih, selain menempati urutan kedua setelah Shahih Bukhori, kitab tersebut memenuhi khazanah pustaka dunia Islam, dan di Indonesia, khususnya di pesantren-pesantren menjadi kurikulum wajib bagi para santri dan mahasiswa.
Pengembaraan (rihlah) dalam pencarian hadits merupakan kekuatan tersendiri, dan amat penting bagi perkembangan intelektualnya. Dalam pengembaraan ini (tahun 220 H), Imam Muslim bertemu dengan guru-gurunya, dimana pertama kali bertemu dengan Qa’nabi dan yang lainnya, ketika menuju kota Makkah dalam rangka perjalanan haji. Perjalanan intelektual lebih serius, barangkali dilakukan tahun 230 H. Dari satu wilayah ke wilayah lainnya, misalnya menuju ke Irak, Syria, Hijaz dan Mesir.
Waktu yang cukup lama dihabiskan bersama gurunya al-Bukhori. Kepada guru besarnya ini, Imam Muslim menaruh hormat yang luar biasa. "Biarkan aku mencium kakimu, hai Imam Muhadditsin dan dokter hadits," pintanya, ketika di sebuah pertemuan antara Bukhori dan Muslim.
Disamping itu, Imam Muslim memang dikenal sebagai tokoh yang sangat ramah, sebagaimana al-Bukhori yang memiliki kehalusan budi bahasa, Imam Muslim juga memiliki reputasi, yang kemudian populer namanya [sebagaimana disebut oleh adz-Dzahabi] dengan sebutan muhsin dari Naisabur.
Maslamah bin Qasim menegaskan, "Muslim adalah tsaqqat, agung derajatnya dan merupakan salah seorang pemuka (Imam)." Senada pula, ungkapan ahli hadits dan fuqaha’ besar, Imam an-Nawawi, "Para ulama sepakat atas kebesarannya, keimanan, ketinggian martabat, kecerdasan dan kepeloporannya dalam dunia hadits."
Kitab Shahih Muslim
Imam Muslim memiliki jumlah karya yang cukup penting dan banyak. Namun yang paling utama adalah karyanya, Shahih Muslim. Dibanding kitab-kitab hadits shahih lainnya, kitab Shahih Muslim memiliki karakteristik tersendiri, dimana Imam Muslim banyak memberikan perhatian pada ekstraksi yang resmi. Beliau bahkan tidak mencantumkan judul-judul setiap akhir dari satu pokok bahasan. Disamping itu, perhatiannya lebih diarahkan pada mutaba’at dan syawahid.
Walaupun dia memiliki nilai beda dalam metode penyusunan kitab hadits, Imam Muslim sekali-kali tidak bermaksud mengungkap fiqih hadits, namun mengemukakan ilmu-ilmu yang bersanad. Karena beliau meriwayatkan setiap hadits di tempat yang paling layak dengan menghimpun jalur-jalur sanadnya di tempat tersebut. Sementara al-Bukhori memotong-motong suatu hadits di beberapa tempat dan pada setiap tempat beliau sebutkan lagi sanadnya. Sebagai murid yang shalih, beliau sangat menghormati gurunya itu, sehingga beliau menghindari orang-orang yang berselisih pendapat dengan al-Bukhori.
Kitab Shahih Muslim memang dinilai kalangan muhaditsun berada setingkat di bawah al-Bukhori. Namun ada sejumlah ulama yang menilai bahwa kitab Imam Muslim lebih unggul ketimbang kitabnya al-Bukhori.
Sebenarnya kitab Shahih Muslim dipublikasikan untuk Abu Zur’ah, salah seorang kritikus hadits terbesar, yang biasanya memberikan sejumlah catatan mengenai cacatnya hadits. Lantas, Imam Muslim kemudian mengoreksi cacat tersebut dengan membuangnya tanpa argumentasi. Karena Imam Muslim tidak pernah mau membukukan hadits-hadits yang hanya berdasarkan kriteria pribadi semata, dan hanya meriwayatkan hadits yang diterima oleh kalangan ulama. Sehingga hadits-hadits Muslim terasa sangat populis.
Berdasarkan hitungan Muhammad Fuad Abdul Baqi, kitab Shahih Muslim memuat 3.033 hadits. Metode penghitungan ini tidak didasarkan pada sistem isnad sebagaimana dilakukan ahli hadits, namun beliau mendasarkannya pada subyek-subyek. Artinya jika didasarkan isnad, jumlahnya bisa berlipat ganda.
Antara al-Bukhori dan Muslim
Imam Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Mustafa ‘Adzami dalam bukunya Studies in Hadith Methodology and Literature, mengambil keuntungan dari Shahih Bukhori, kemudian menyusun karyanya sendiri, yang tentu saja secara metodologis dipengaruhi karya al-Bukhori.
Antara al-Bukhori dan Muslim, dalam dunia hadits memiliki kesetaraan dalam keshahihan hadits, walaupun hadits al-Bukhori dinilai memiliki keunggulan setingkat. Namun, kedua kitab hadits tersebut mendapatkan gelar sebagai as-Shahihain.
Sebenarnya para ulama berbeda pendapat mana yang lebih unggul antara Shahih Muslim dengan Shahih Bukhori. Jumhur Muhadditsun berpendapat, Shahihul Bukhori lebih unggul, sedangkan sejumlah ulama Marokko dan yang lain lebih mengunggulkan Shahih Muslim. Hal ini menunjukkan, sebenarnya perbedaannya sangatlah sedikit, dan walaupun itu terjadi, hanyalah pada sistematika penulisannya saja, serta perbandingan antara tema dan isinya.
Al-Hafizh ibnu Hajar mengulas kelebihan Shahih Bukhori atas Shahih Muslim, antara lain, karena al-Bukhori mensyaratkan kepastian bertemunya dua perawi yang secara struktural sebagai guru dan murid dalam hadits Mu’an’an; agar dapat dihukumi bahwa sanadnya bersambung. Sementara Muslim menganggap cukup dengan "kemungkinan" bertemunya kedua rawi tersebut dengan tidak adanya tadlis.
Al-Bukhori mentakhrij hadits yang diterima para perawi tsaqqat derajat utama dari segi hafalan dan keteguhannya. Walaupun juga mengeluarkan hadits dari rawi derajat berikutnya dengan sangat selektif. Sementara Muslim, lebih banyak pada rawi derajat kedua dibanding Bukhori. Disamping itu kritik yang ditujukan kepada perawi jalur Muslim lebih banyak dibanding kepada al-Bukhori.
Sementara pendapat yang berpihak pada keunggulan Shahih Muslim beralasan [sebagaimana dijelaskan ibnu Hajar] bahwa Muslim lebih berhati-hati dalam menyusun kata-kata dan redaksinya, karena menyusunnya di negeri sendiri dengan berbagai sumber di masa kehidupan guru-gurunya. Beliau juga tidak membuat kesimpulan dengan memberi judul bab sebagaimana Bukhori lakukan. Dan sejumlah alasan lainnya.
Namun prinsipnya, tidak semua hadits Bukhori lebih shahih ketimbang hadits Muslim dan sebaliknya. Hanya pada umumnya keshahihan hadits riwayat Bukhori itu lebih tinggi derajatnya daripada keshahihan hadits dalam Shahih Muslim.
Karya-karya Imam Muslim
Imam Muslim berhasil menghimpun karya-karyanya, antara lain seperti:
1) al-Asma’ wal-Kuna
2) Irfadus Syamiyyin
3) al-Arqaam
4) al-Intifa bi Juludis Siba’
5) Auhamul Muhadditsin
6) Auladish-Shahabah
7) at-Tarikh
8) at-Tamyiz
9) al-Jami’ ash-Shahih (Shahih Muslim)
10) Hadits Amr bin Syu’aib
11) Rijalul ‘Urwah
12) Su`alatihi Ahmad bin Hanbal
13) Thabaqat
14) al-I’lal
15) al-Mukhadhramin
16) al-Musnad al-Kabir (kitab yang menerangkan nama-nama para perawi hadits)
17) Masyayikh ats-Tsawri
18) Masyayikh Syu’bah
19) Masyayikh Malik
20) al-Wuhdan
21) as-Shahih al-Masnad
22) Man Laisa Lahu illa Rawin Wahid
Kitab-kitab nomor 6, 20, dan 21 telah dicetak, sementara nomor 1, 11, dan 13 masih dalam bentuk manuskrip. Sedangkan karyanya yang monumental adalah Shahih dari judul singkatnya, yang sebenarnya berjudul, al-Musnad as-Shahih, al-Mukhtashar minas Sunan, bin-Naqli al-’Adl ‘anil ‘Adl ‘an Rasulillah.
Wafatnya Imam Muslim
Imam Muslim wafat pada Ahad sore, pada tanggal 24 Rajab 261 H. Semoga ALLAH SWT merahmatinya, mengampuni segala kesalahannya, serta menggolongkannya ke dalam golongan orang-orang yang sholeh. Amien...
Sumber:
- al-Jami’ ash-Shahih (Shahih Muslim) karya Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj
- as-Shahih al-Masnad karya Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj
- Su`alatihi Ahmad bin Hanbal karya Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj

Tuesday, July 24, 2012

Hari Ini Ada 3 Orang Masuk Surga

Ada 3 wanita yang telah meninggal dan saat ini mereka sedang berada di pintu gerbang surga untuk diwawancarai oleh Malaikat Penjaga Pintu Surga dan asistennya. Berikut wawancara yang terjadi,
Malaikat : "Bagaimana kehidupan kamu wanita A?"
Wanita A : "Oh saya wanita paling baik dan soleh, sampai saya meninggal saya masih menjaga keperawanan saya"
Malaikat : "OK.. Asisten berikan Kunci Surga Emas!"
Asisten : "Baik bos!!"
Malaikat : "Bagaimana dengan kamu Wanita B?"
Wanita B : "Kalau saya normal saja tuh.. saya menjalankan agama, menikah, dan sekali-sekali selingkuh.. tapi waktu meninggal saya sudah tobat"
Malaikat : "Asisten Berikan Kunci Surga Perak!"
Asisten : "Baik bos!!"
Malaikat : "Nah, kalau kamu bagaimana Wanita C?"
Wanita C : (Sambil senyum genit) Saya anak gaul, malaikat.. hobby saya clubing, hidup saya bebas agak-agak free sex.. Habis kata orang body saya itu mulus dan sexy.. Jadi ya sudah saya manfaatkan saja sekalian.. habisnya enak sih..."
Malaikat : "Asisten berikan Kunci Kamar saya...!!!"
Asisten : ??!@##!?

Monday, July 23, 2012

Kege'eran

Pada suatu hari di tempat fotokopian,
Bella : "Bang, tolong fotokopiin KTP lima lembar ya!"
Rizka : "Aslinya mana, neng?"
Bella : (sambil tersipu malu) "Saya asli dari Jawa Timur, Bang! Memangnya kenapa, Bang?"
Rizka : "Maksud saya, KTP yang aslinya mana?"
Bella : "Oooo..." (muka memerah, karena malu. Habis kegeeran sih)

Kedudukan Tinggi

Ada 2 orang sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Kemudian mereka bertemu dan berbincang-bincang.
Deden : "Hai sob, kamu sekarang kerja di mana?"
Dudun : "Saya sekarang sudah jadi pengusaha. Kalau kamu sendiri bagaimana?"
Deden : "Kalau saya sih sekarang sudah punya kedudukan yang tinggi sob..."
Dudun : "Wah, hebat sekali. Kamu kan SMP saja tidak lulus tapi bisa punya kedudukan tinggi. Emangnya apa sih pekerjaanmu?"
Deden : "Jadi penjaga mercusuar..."
Dudun : ??@!!%?

Sunday, July 22, 2012

Logo Persebaya

Logo Persebaya (berwarna)

Logo Persebaya, Lambang Persebaya, Gambar Logo Persebaya, Gambar Lambang Persebaya, Wallpaper Persebaya, Gambar Wallpaper Persebaya, Wallpaper Logo Persebaya

Download Logo Kabupaten dan Artinya disini